Dasar
Spot
Perdagangkan kripto dengan bebas
Perdagangan Margin
Perbesar keuntungan Anda dengan leverage
Konversi & Investasi Otomatis
0 Fees
Perdagangkan dalam ukuran berapa pun tanpa biaya dan tanpa slippage
ETF
Dapatkan eksposur ke posisi leverage dengan mudah
Perdagangan Pre-Market
Perdagangkan token baru sebelum listing
Futures
Akses ribuan kontrak perpetual
TradFi
Emas
Satu platform aset tradisional global
Opsi
Hot
Perdagangkan Opsi Vanilla ala Eropa
Akun Terpadu
Memaksimalkan efisiensi modal Anda
Perdagangan Demo
Pengantar tentang Perdagangan Futures
Bersiap untuk perdagangan futures Anda
Acara Futures
Gabung acara & dapatkan hadiah
Perdagangan Demo
Gunakan dana virtual untuk merasakan perdagangan bebas risiko
Peluncuran
CandyDrop
Koleksi permen untuk mendapatkan airdrop
Launchpool
Staking cepat, dapatkan token baru yang potensial
HODLer Airdrop
Pegang GT dan dapatkan airdrop besar secara gratis
Pre-IPOs
Buka akses penuh ke IPO saham global
Poin Alpha
Perdagangkan aset on-chain, raih airdrop
Poin Futures
Dapatkan poin futures dan klaim hadiah airdrop
Investasi
Simple Earn
Dapatkan bunga dengan token yang menganggur
Investasi Otomatis
Investasi otomatis secara teratur
Investasi Ganda
Keuntungan dari volatilitas pasar
Soft Staking
Dapatkan hadiah dengan staking fleksibel
Pinjaman Kripto
0 Fees
Menjaminkan satu kripto untuk meminjam kripto lainnya
Pusat Peminjaman
Hub Peminjaman Terpadu
Banking di Amerika Serikat menanggapi laporan stabilitas mata uang digital secara positif—"Masalahnya sendiri sebenarnya tidak benar"
Amerika industri perbankan membantah studi Gedung Putih tentang hasil (yield) stablecoin. Kontroversi ini telah melampaui interpretasi data sederhana, berkembang menjadi pertarungan kerangka fundamental yang menentukan arah legislatif stablecoin di AS dan masa depan ekosistem keuangan regional.
■ Laporan CEA Gedung Putih: “Larangan hasil sangat kecil manfaatnya”
8 April, Dewan Penasihat Ekonomi Gedung Putih(CEA) merilis laporan analisis sepanjang 21 halaman. Kesimpulan laporan jelas: melarang hasil stablecoin hanya akan meningkatkan pinjaman bank sekitar 2,1 miliar dolar AS, yaitu 0,02% dari total pinjaman 12 triliun dolar AS. Di antaranya, bagian bank regional (aset di bawah 100 miliar dolar) hanya sebesar 500 juta dolar.
Laporan juga menganalisis bahwa larangan ini akan menyebabkan konsumen melepaskan sekitar 800 juta dolar hasil, dengan rasio biaya-manfaat sebesar 6,6—yang berarti biaya melarang hasil jauh melebihi manfaat yang diperoleh.
Dasar analisisnya adalah logika “penataan ulang(reshuffling)” : karena penerbit stablecoin akan menginvestasikan kembali cadangan mereka ke dalam obligasi AS, perjanjian pembelian kembali, dana pasar uang, dan lain-lain, bahkan jika konsumen memindahkan dana ke stablecoin, dana akhirnya akan kembali ke sistem perbankan. Laporan menyarankan bahwa, mengingat saat ini industri perbankan memegang lebih dari 1,1 triliun dolar surplus likuiditas, secara sistemik hampir tidak akan ada pembatasan pinjaman.
■ Balasan ABA: “Jawaban yang benar untuk masalah yang salah”
Kepala Ekonom Asosiasi Perbankan Amerika(ABA), Sai Srinivasan, dan Wakil Kepala Divisi Riset Perbankan dan Ekonomi, Yi Kai Wang, segera mengajukan bantahan. Inti pandangan mereka adalah: “Laporan CEA sejak awal mengajukan pertanyaan yang salah, meredam risiko inti.”
ABA menegaskan bahwa inti perdebatan kebijakan bukanlah ‘pengaruh larangan hasil terhadap pinjaman’, melainkan ‘apakah hasil akan mempercepat hilangnya simpanan’. Terutama, skenario di mana dana keluar dari bank regional, menyebabkan biaya pendanaan bank meningkat dan pelonggaran pinjaman regional, adalah ancaman nyata.
Berdasarkan analisis terkait negara bagian, ABA memperkirakan bahwa jika pasar stablecoin tumbuh dari sekitar 300 miliar dolar saat ini menjadi 1 triliun hingga 2 triliun dolar, hanya di Iowa saja kemungkinan akan mengurangi pinjaman sebesar 4,4 miliar hingga 8,7 miliar dolar.
■ Titik konflik utama: statistik total vs. kenyataan lembaga individual
Perdebatan kedua pihak akhirnya berakar pada perbedaan kerangka pandangan: melihat ‘sistem keseluruhan’ atau ‘lembaga individual’.
Gedung Putih menekankan bahwa, meskipun dana mengalir ke stablecoin, cadangan akan kembali ke sistem perbankan melalui obligasi AS dan jalur lainnya, mengikuti tren makro. Sedangkan ABA menunjukkan bahwa ‘kembalinya’ ini tidak mengalir ke bank regional yang kehilangan simpanan, melainkan terkonsentrasi ke lembaga keuangan besar atau pasar uang. Bank regional harus bergantung pada pembiayaan grosir untuk menutupi hilangnya simpanan, yang akan menyebabkan biaya pendanaan meningkat → suku bunga pinjaman naik → kredit untuk usaha kecil, petani, dan keluarga menyusut.
■ Perdebatan tentang RUU GENIUS dan ‘celah RUU CLARITY’
Latar belakang perdebatan ini adalah RUU GENIUS yang mulai berlaku pada Juli 2025. RUU ini melarang penerbit stablecoin pembayaran langsung membayar bunga, tetapi ada celah: tidak secara tegas melarang distribusi hasil melalui platform pihak ketiga.
Contoh kasusnya adalah insentif USDC Coinbase. Dengan membagikan hasil cadangan kepada pengguna, mereka menawarkan tingkat pengembalian mendekati rekening tabungan berimbal tinggi. ABA berpendapat bahwa struktur ini secara substansial mengabaikan niat legislatif melarang hasil, dan menganggap bahwa amandemen RUU CLARITY yang sedang dibahas harus menutup jalur ini secara tegas.
FDIC juga telah bergabung dalam tren ini. Mereka mengusulkan draft regulasi untuk pelaksanaan RUU GENIUS, dan sedang mendorong revisi aturan asuransi simpanan agar pembayaran stablecoin tidak berlaku untuk asuransi simpanan.
■ Masalah yang lebih dalam: kekhawatiran ‘Bank Sempit(Narrow Bank)’
Di balik perdebatan ini tersembunyi masalah struktur keuangan yang lebih mendasar. Yakni kekhawatiran bahwa stablecoin berbasis hasil sebenarnya berperan sebagai ‘bank sempit’, menarik dana dari fungsi perantara kredit tradisional.
Gedung Putih berpendapat bahwa selama cadangan tetap berada di obligasi AS dan aset super aman lainnya, struktur seperti bank sempit ini mungkin justru menguntungkan dari segi keamanan pembayaran. Sedangkan ABA mengutip contoh Kongres yang enggan menyetujui CBDC (mata uang digital bank sentral) karena alasan yang sama, dan membantah bahwa toleransi terhadap model ini tanpa jaminan fungsi bank komunitas adalah inkonsisten.
Selain itu, lebih dari 80% transaksi stablecoin dilakukan di luar negeri, dan beberapa penerbit memegang obligasi AS yang jumlahnya melebihi beberapa negara. Situasi ini juga menjadi latar belakang perdebatan. Ini menunjukkan bahwa pertarungan hasil ini juga terkait dengan permintaan obligasi AS dan biaya fiskal AS, yang berinteraksi dengan variabel geopolitik.
■ Pelajaran untuk pasar Korea
Perdebatan ini bukan sekadar pertarungan kebijakan internal AS. Korea juga menghadapi pilihan kebijakan serupa, yaitu mendorong legislasi stablecoin won (seperti KRWQ) dan membangun pasar sekuritas token. Haruskah stablecoin tetap sebagai ‘alat pembayaran’, atau diizinkan berkembang menjadi ‘produk keuangan berbasis hasil’—jawaban AS terhadap pertanyaan ini juga bisa menjadi preseden penting bagi legislasi Korea.
Terutama, argumen ABA bahwa stablecoin berbasis hasil berpotensi mengancam simpanan koperasi kredit, bank tabungan, dan lembaga keuangan rakyat lainnya, juga berlaku untuk bank daerah dan ekosistem keuangan mutual di Korea. Inilah alasan utama mengapa otoritas pengawas harus memperhatikan ketat perdebatan AS ini.