72% bursa kripto Indonesia masih merugi meskipun memiliki 20 juta pengguna

TapChiBitcoin
CHO-5,27%

Badan Jasa Keuangan (OJK) mengatakan bahwa pada akhir tahun 2025, sekitar 72% bursa mata uang kripto berlisensi di Indonesia masih tidak menguntungkan, meskipun jumlah penggunanya telah melebihi 20 juta. Alasan utamanya adalah arus perdagangan semakin bergeser ke platform asing, menyebabkan kurangnya likuiditas di bursa domestik.

Total nilai transaksi mata uang kripto pada 2025 turun menjadi 482,23 triliun rupiah, dibandingkan dengan 650 triliun rupiah pada 2024. CEO Indodax William Sutanto mengatakan bahwa investor melihat ke bursa internasional karena biaya yang lebih rendah, eksekusi pesanan yang efisien, dan penarikan yang cepat. Sementara itu, bursa domestik harus menanggung pajak dan biaya kepatuhan, sedangkan platform asing tidak.

Tekanan persaingan meningkat seiring dengan ekspansi “pemain besar” seperti Binance, Bybit, dan Robinhood di Indonesia. Selain itu, pertukaran yang tidak sah diperkirakan menyebabkan negara kehilangan pendapatan pajak sebesar $70-110 juta setiap tahun.

Penafian: Informasi di halaman ini dapat berasal dari pihak ketiga dan tidak mewakili pandangan atau opini Gate. Konten yang ditampilkan hanya untuk tujuan referensi dan bukan merupakan nasihat keuangan, investasi, atau hukum. Gate tidak menjamin keakuratan maupun kelengkapan informasi dan tidak bertanggung jawab atas kerugian apa pun yang timbul akibat penggunaan informasi ini. Investasi aset virtual memiliki risiko tinggi dan rentan terhadap volatilitas harga yang signifikan. Anda dapat kehilangan seluruh modal yang diinvestasikan. Harap pahami sepenuhnya risiko yang terkait dan buat keputusan secara bijak berdasarkan kondisi keuangan serta toleransi risiko Anda sendiri. Untuk detail lebih lanjut, silakan merujuk ke Penafian.
Komentar
0/400
Tidak ada komentar