Summit Fintech India Tidak Menyertakan Kripto dan Stablecoin dalam Agenda

TLDR

  • Konferensi Fintech India berfokus pada CBDC, AI, dan aset digital yang teregulasi.
  • FIU-IND memblokir 25 bursa kripto lepas pantai (offshore) karena pelanggaran AML dan KYC.
  • Menteri Keuangan Nirmala Sitharaman mengakui stablecoin untuk pembayaran lintas negara.
  • India memprioritaskan infrastruktur digital yang dikendalikan pemerintah untuk inovasi keuangan.

Acara teknologi finansial global unggulan India, Global Fintech Fest (GFF) 2025, memberikan pernyataan tegas dengan mengecualikan pembahasan tentang kripto pribadi dan stablecoin. Keputusan ini menegaskan pergeseran negara tersebut menuju masa depan keuangan digital yang digerakkan pemerintah. Langkah ini bertepatan dengan langkah-langkah regulasi yang lebih ketat, termasuk penindakan terhadap bursa kripto lepas pantai, yang menandakan komitmen India pada ekosistem digital yang terkendali, berfokus pada Central Bank Digital Currency (CBDC) dan infrastruktur nasional berbasis AI.

Pengecualian Kriptokurensi Pribadi dan Stablecoin

Pada GFF 2025, yang berlangsung di Mumbai pada 7-9 Oktober, pembahasan mengenai kriptokurensi pribadi dan stablecoin secara mencolok tidak ada. Ini bukanlah kelalaian, melainkan pilihan yang disengaja oleh penyelenggara acara, yang mencerminkan prioritas pemerintah India saat ini. KTT tersebut terutama berfokus pada bidang-bidang yang berada dalam kendali pemerintah, seperti pengembangan Central Bank Digital Currency (CBDC), kemajuan dalam kecerdasan buatan (AI), serta infrastruktur digital nasional seperti DigiLocker.

Pengecualian aset-aset ini dari agenda sejalan dengan sikap regulasi India. Pemerintah telah berulang kali menegaskan bahwa kriptokurensi pribadi bukan alat pembayaran yang sah dan tidak seharusnya menjadi bagian dari pembahasan keuangan arus utama. Sebaliknya, ada penekanan kuat pada teknologi finansial yang beroperasi dalam kerangka regulasi yang ditetapkan oleh Reserve Bank of India (RBI) dan lembaga pemerintah lainnya.

Tindakan Regulasi dan Penindakan Bursa Kripto Lepas Pantai

Pengecualian kriptokurensi dari GFF 2025 terjadi dalam konteks meningkatnya tindakan regulasi terhadap aset digital. Unit Intelijen Keuangan India (FIU-IND) baru-baru ini memerintahkan pemblokiran 25 bursa kripto lepas pantai karena gagal mematuhi persyaratan Anti Pencucian Uang (AML) dan Kenali Nasabah (KYC). Bursa-bursa tersebut ditemukan tidak mematuhi Prevention of Money-Laundering Act (PMLA), sebuah regulasi kunci untuk operasi keuangan di negara tersebut.

Langkah ini merupakan bagian dari upaya luas India untuk memastikan semua pelaku keuangan, termasuk platform digital, mematuhi standar domestik. Penegakan regulasi oleh FIU-IND membuat jelas bahwa platform yang beroperasi tanpa kerangka hukum yang diperlukan akan menghadapi konsekuensi, termasuk dikecualikan dari pasar India. Tindakan pemerintah memperkuat sikapnya terhadap kebutuhan untuk integrasi penuh ke dalam ekosistem yang teregulasi.

Sikap India terhadap Stablecoin dan Pembayaran Lintas Negara

Meskipun mengecualikan Aset Digital Virtual (VDAs) spekulatif seperti kriptokurensi, Menteri Keuangan India, Nirmala Sitharaman, telah mengakui potensi stablecoin dalam sistem keuangan global. Pada awal Oktober 2025, ia menyatakan bahwa negara-negara harus “bersiap untuk terlibat” dengan stablecoin, mengakui potensi mereka untuk memfasilitasi pembayaran lintas negara dan meningkatkan infrastruktur keuangan.

Namun, pemerintah India tetap berhati-hati terhadap stablecoin, karena risiko yang terkait dengan volatilitasnya. Menteri Sitharaman menekankan bahwa meskipun teknologi di balik stablecoin mungkin bernilai, teknologi itu harus diregulasi untuk mengurangi risiko keuangan. Pemerintah India berfokus untuk memastikan bahwa setiap aset digital atau mata uang di yurisdiksinya mematuhi hukum keuangan setempat, termasuk aturan yang mengatur penerbitan CBDC milik negara tersebut sendiri.



Fokus India pada CBDC dan Infrastruktur Digital

Ke depan, ekosistem keuangan digital India berpusat pada inisiatif yang diawasi pemerintah, khususnya pengembangan Central Bank Digital Currency (CBDC). Negara tersebut berupaya membangun mata uang digital yang aman dan teregulasi untuk melengkapi infrastruktur keuangannya yang sudah ada. Selain itu, pemerintah menginvestasikan secara besar-besaran pada platform digital nasional, seperti DigiLocker, yang bertujuan memodernisasi layanan publik dan memfasilitasi transaksi digital yang aman.

Upaya-upaya ini merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk memosisikan India sebagai pemimpin layanan keuangan digital sambil memastikan bahwa layanan-layanan tersebut sepenuhnya teregulasi dan selaras dengan kebijakan pemerintah. Seiring pemerintah terus meluncurkan inisiatif-inisiatif ini, peran kriptokurensi pribadi yang tidak teregulasi tampaknya semakin berkurang dalam strategi keuangan negara tersebut.

Sikap India terhadap aset digital sudah jelas: setiap operasi keuangan harus selaras dengan kerangka hukum dan regulasi negara tersebut untuk memperoleh akses ke pasar.

Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Sematkan