Ketegangan politik antara London dan Washington mengenai pengendalian Kepulauan Chagos semakin memburuk. Minggu ini, Perdana Menteri Kiri Starmer dan Presiden Donald Trump mengadakan pembicaraan mendesak, dengan fokus pada masa depan pangkalan militer strategis Diego Garcia. Menurut Jin10, percakapan ini mencerminkan perbedaan mendalam antara kedua negara terkait prinsip pengelolaan kepulauan strategis ini di Samudra Hindia.
Mengapa Kepulauan Chagos Menjadi Kepentingan Militer dan Strategis
Kepulauan Chagos, yang terletak sekitar 2000 mil dari pantai Afrika Timur, memegang posisi penting dalam sistem keamanan global. Pangkalan militer di Diego Garcia berfungsi sebagai titik tumpu untuk operasi di Samudra Hindia dan memastikan pengendalian atas jalur laut utama. Kedua negara mengakui nilai strategis dari objek ini dan sepakat akan perlunya keberlangsungannya secara permanen.
Perubahan Sikap Washington Secara Mendadak
Tak lama setelah memulai masa jabatan keduanya, Trump meninjau kembali kebijakan yang sebelumnya didukungnya, menentang rencana penyerahan kepulauan tersebut kepada Mauritius. Presiden menyebut skenario ini sebagai “penampakan kelemahan” dan “kesalahan strategis”. Kesepakatan awal menyatakan bahwa Inggris akan menyerahkan kendali administratif atas Chagos kepada negara Afrika tersebut, sambil mempertahankan operasi militer di pangkalan melalui pembayaran keuangan tahunan. Namun, ketegangan posisi antara kedua aliansi menimbulkan keraguan terhadap pengaturan ini.
Pembicaraan Baru dan Prospek Kerja Sama
Menurut ringkasan percakapan telepon, kedua pemimpin menegaskan komitmen mereka untuk memperkuat kemitraan strategis dalam isu keamanan regional. Inggris dan AS sepakat akan perlunya kontak dekat untuk menyepakati rincian pengoperasian jangka panjang pangkalan. Kesepakatan ini menunjukkan keinginan Washington dan London untuk menemukan keseimbangan antara kepentingan geopolitik dan klaim Mauritius atas kedaulatan atas kepulauan tersebut.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Inggris dan AS bermanuver di sekitar status pangkalan militer kritis
Ketegangan politik antara London dan Washington mengenai pengendalian Kepulauan Chagos semakin memburuk. Minggu ini, Perdana Menteri Kiri Starmer dan Presiden Donald Trump mengadakan pembicaraan mendesak, dengan fokus pada masa depan pangkalan militer strategis Diego Garcia. Menurut Jin10, percakapan ini mencerminkan perbedaan mendalam antara kedua negara terkait prinsip pengelolaan kepulauan strategis ini di Samudra Hindia.
Mengapa Kepulauan Chagos Menjadi Kepentingan Militer dan Strategis
Kepulauan Chagos, yang terletak sekitar 2000 mil dari pantai Afrika Timur, memegang posisi penting dalam sistem keamanan global. Pangkalan militer di Diego Garcia berfungsi sebagai titik tumpu untuk operasi di Samudra Hindia dan memastikan pengendalian atas jalur laut utama. Kedua negara mengakui nilai strategis dari objek ini dan sepakat akan perlunya keberlangsungannya secara permanen.
Perubahan Sikap Washington Secara Mendadak
Tak lama setelah memulai masa jabatan keduanya, Trump meninjau kembali kebijakan yang sebelumnya didukungnya, menentang rencana penyerahan kepulauan tersebut kepada Mauritius. Presiden menyebut skenario ini sebagai “penampakan kelemahan” dan “kesalahan strategis”. Kesepakatan awal menyatakan bahwa Inggris akan menyerahkan kendali administratif atas Chagos kepada negara Afrika tersebut, sambil mempertahankan operasi militer di pangkalan melalui pembayaran keuangan tahunan. Namun, ketegangan posisi antara kedua aliansi menimbulkan keraguan terhadap pengaturan ini.
Pembicaraan Baru dan Prospek Kerja Sama
Menurut ringkasan percakapan telepon, kedua pemimpin menegaskan komitmen mereka untuk memperkuat kemitraan strategis dalam isu keamanan regional. Inggris dan AS sepakat akan perlunya kontak dekat untuk menyepakati rincian pengoperasian jangka panjang pangkalan. Kesepakatan ini menunjukkan keinginan Washington dan London untuk menemukan keseimbangan antara kepentingan geopolitik dan klaim Mauritius atas kedaulatan atas kepulauan tersebut.