Hanya karena sebuah item memiliki label desainer tidak berarti nilainya akan tetap sebagai investasi. Pasar barang mewah mengungkapkan sebuah kebenaran yang tidak nyaman: banyak pembelian high-end mengalami depresiasi secara drastis saat dijual kembali, bahkan dalam kondisi prima. Memahami barang mana yang harganya jatuh bisa membantu Anda membuat keputusan pembelian yang lebih cerdas dan menghindari membayar terlalu mahal untuk barang yang tidak akan mempertahankan nilainya.
Sepatu Depresiasi dengan Cepat Setelah Dipakai
Sepatu desainer sangat rentan terhadap depresiasi. Setelah sepasang sepatu menunjukkan tanda-tanda penggunaan—seperti lecet, meregang, atau tumit yang aus—daya jual kembali mereka menurun drastis. Di platform seperti The RealReal, bahkan sepatu yang bergengsi pun tidak mendapatkan harga pasar sekunder yang wajar. Sebuah pasang boots UGG suede dengan trim bulu dan tali dengan harga retail asli $150 saat ini hanya dijual kembali seharga $9. Kondisi sangat penting: sepatu dalam kondisi “baik” daripada “seperti baru” mengalami penurunan nilai menjadi hanya 5-6% dari biaya aslinya.
Masalahnya bukan pada kerajinan—melainkan persepsi. Konsumen yang membeli barang bekas untuk sepatu sangat selektif terhadap keausan yang terlihat, menganggap bahkan noda kecil sebagai penghalang transaksi daripada tanda karakter.
Rebecca Minkoff dan Tas Tangan Menengah Kesulitan Mengembalikan Nilai
Tas tangan desainer kelas menengah merupakan salah satu kategori resale yang paling mengecewakan. Merek seperti Rebecca Minkoff, Kate Spade New York, dan Michael Kors menempati posisi yang canggung dalam hierarki barang mewah—cukup bergengsi untuk mendapatkan harga premium di toko, tetapi tidak cukup bergengsi untuk mempertahankan nilai tersebut di pasar sekunder.
Sebuah tas bahu kulit Rebecca Minkoff dalam kondisi “baik” memiliki harga retail $300 tetapi hanya terjual kembali seharga $18 (kerugian 94%). Demikian pula, sebuah tas bahu kulit Saffiano dari Kate Spade New York yang awalnya dihargai $360 juga hanya terjual seharga $18 dalam kondisi “baik”. Penurunan drastis ini menunjukkan mengapa merek kelas menengah kesulitan di resale: mereka tidak memiliki eksklusivitas dari rumah mewah bersejarah, tetapi harga mereka menunjukkan sebaliknya.
Tren Mode Kuno Menghancurkan Nilai Gaun
Gaun desainer yang tren mungkin terlihat seperti investasi saat dibeli, tetapi begitu gaya berganti, nilai resale mereka hampir hilang sepenuhnya. Sebuah gaun mini dengan leher scoop Rachel Pally yang dijual seharga $240 dalam kondisi “baik” terjual hanya seharga $8. Sebuah gaun mini V-neck dari Joie yang baru dihargai $230 juga terjual seharga $8 dalam kondisi “sangat baik”. Bahkan kondisi yang sangat baik pun tidak mampu mengatasi stigma estetika yang kuno.
Kesimpulannya: gaun yang mengikuti tren mode memiliki masa simpan yang diukur dalam musim, bukan tahun. Nilai resale mereka mencerminkan kenyataan ini, yang runtuh begitu tren berganti.
Topi dan Case Ponsel: Aksesori yang Tidak Akan Mengembalikan Biaya Sendiri
Aksesori kecil menghadapi tantangan resale mereka sendiri. Sebuah headband wol Eugenia Kim yang awalnya dihargai sekitar $115 dijual kembali seharga $20. Lebih drastis lagi, sebuah topi fedora wol Rag & Bone yang baru seharga $250 kini hanya dijual seharga $24.75—depresiasi 90%. Case ponsel desainer bahkan lebih buruk: sebuah Tumi 19 Degree Case dalam kondisi sangat baik, kemungkinan awalnya seharga $125, saat ini dijual seharga $7. Sebuah case iPhone 11 Pro bermotif floral dari LoveShackFancy yang awalnya sekitar $60, sekarang terdaftar di $7.50.
Barang-barang ini mengalami keusangan teknologi yang cepat (model ponsel berubah setiap tahun) dan perubahan preferensi gaya yang membuat barang yang bahkan dibuat dengan baik pun terasa tiba-tiba kuno.
Tingkat Brand Menentukan Nasib Resale Lebih dari Kualitas
Benang merah yang menghubungkan semua bencana depresiasi ini bukanlah kerajinan yang buruk—melainkan posisi merek. Merek heritage tingkat atas (seperti Hermès, Chanel, Louis Vuitton) mempertahankan nilai karena kelangkaan dan citra budaya mereka. Merek menengah dan mewah yang dapat diakses tidak mendapatkan manfaat dari permintaan yang sama yang bertahan lama.
Selain itu, penurunan kondisi dari “baru” ke “baik” atau “sangat baik” menciptakan kesenjangan persepsi yang dihukum keras oleh pasar barang bekas. Pembeli yang membeli barang bekas mengharapkan diskon besar, bukan penghematan 10-15%.
Kesimpulan tentang Nilai Resale Barang Desainer
Pelajaran bagi pembeli barang mewah jelas: tidak semua pembelian mahal berfungsi sebagai lindung nilai keuangan. Sepatu wanita yang dipakai, tas menengah seperti dari Rebecca Minkoff, gaun kuno, topi, dan case ponsel hampir secara universal gagal mengembalikan biaya aslinya. Sebelum membeli, pertimbangkan apakah Anda membeli untuk kesenangan pribadi atau potensi resale—karena angka menunjukkan bahwa sebagian besar barang mewah sebenarnya tidak layak dijual ketika waktunya telah berlalu.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Barang Desain Mewah yang Kehilangan Nilai dengan Cepat: Mengapa Rebecca Minkoff dan Merek Lain Gagal dalam Penjualan Kembali
Hanya karena sebuah item memiliki label desainer tidak berarti nilainya akan tetap sebagai investasi. Pasar barang mewah mengungkapkan sebuah kebenaran yang tidak nyaman: banyak pembelian high-end mengalami depresiasi secara drastis saat dijual kembali, bahkan dalam kondisi prima. Memahami barang mana yang harganya jatuh bisa membantu Anda membuat keputusan pembelian yang lebih cerdas dan menghindari membayar terlalu mahal untuk barang yang tidak akan mempertahankan nilainya.
Sepatu Depresiasi dengan Cepat Setelah Dipakai
Sepatu desainer sangat rentan terhadap depresiasi. Setelah sepasang sepatu menunjukkan tanda-tanda penggunaan—seperti lecet, meregang, atau tumit yang aus—daya jual kembali mereka menurun drastis. Di platform seperti The RealReal, bahkan sepatu yang bergengsi pun tidak mendapatkan harga pasar sekunder yang wajar. Sebuah pasang boots UGG suede dengan trim bulu dan tali dengan harga retail asli $150 saat ini hanya dijual kembali seharga $9. Kondisi sangat penting: sepatu dalam kondisi “baik” daripada “seperti baru” mengalami penurunan nilai menjadi hanya 5-6% dari biaya aslinya.
Masalahnya bukan pada kerajinan—melainkan persepsi. Konsumen yang membeli barang bekas untuk sepatu sangat selektif terhadap keausan yang terlihat, menganggap bahkan noda kecil sebagai penghalang transaksi daripada tanda karakter.
Rebecca Minkoff dan Tas Tangan Menengah Kesulitan Mengembalikan Nilai
Tas tangan desainer kelas menengah merupakan salah satu kategori resale yang paling mengecewakan. Merek seperti Rebecca Minkoff, Kate Spade New York, dan Michael Kors menempati posisi yang canggung dalam hierarki barang mewah—cukup bergengsi untuk mendapatkan harga premium di toko, tetapi tidak cukup bergengsi untuk mempertahankan nilai tersebut di pasar sekunder.
Sebuah tas bahu kulit Rebecca Minkoff dalam kondisi “baik” memiliki harga retail $300 tetapi hanya terjual kembali seharga $18 (kerugian 94%). Demikian pula, sebuah tas bahu kulit Saffiano dari Kate Spade New York yang awalnya dihargai $360 juga hanya terjual seharga $18 dalam kondisi “baik”. Penurunan drastis ini menunjukkan mengapa merek kelas menengah kesulitan di resale: mereka tidak memiliki eksklusivitas dari rumah mewah bersejarah, tetapi harga mereka menunjukkan sebaliknya.
Tren Mode Kuno Menghancurkan Nilai Gaun
Gaun desainer yang tren mungkin terlihat seperti investasi saat dibeli, tetapi begitu gaya berganti, nilai resale mereka hampir hilang sepenuhnya. Sebuah gaun mini dengan leher scoop Rachel Pally yang dijual seharga $240 dalam kondisi “baik” terjual hanya seharga $8. Sebuah gaun mini V-neck dari Joie yang baru dihargai $230 juga terjual seharga $8 dalam kondisi “sangat baik”. Bahkan kondisi yang sangat baik pun tidak mampu mengatasi stigma estetika yang kuno.
Kesimpulannya: gaun yang mengikuti tren mode memiliki masa simpan yang diukur dalam musim, bukan tahun. Nilai resale mereka mencerminkan kenyataan ini, yang runtuh begitu tren berganti.
Topi dan Case Ponsel: Aksesori yang Tidak Akan Mengembalikan Biaya Sendiri
Aksesori kecil menghadapi tantangan resale mereka sendiri. Sebuah headband wol Eugenia Kim yang awalnya dihargai sekitar $115 dijual kembali seharga $20. Lebih drastis lagi, sebuah topi fedora wol Rag & Bone yang baru seharga $250 kini hanya dijual seharga $24.75—depresiasi 90%. Case ponsel desainer bahkan lebih buruk: sebuah Tumi 19 Degree Case dalam kondisi sangat baik, kemungkinan awalnya seharga $125, saat ini dijual seharga $7. Sebuah case iPhone 11 Pro bermotif floral dari LoveShackFancy yang awalnya sekitar $60, sekarang terdaftar di $7.50.
Barang-barang ini mengalami keusangan teknologi yang cepat (model ponsel berubah setiap tahun) dan perubahan preferensi gaya yang membuat barang yang bahkan dibuat dengan baik pun terasa tiba-tiba kuno.
Tingkat Brand Menentukan Nasib Resale Lebih dari Kualitas
Benang merah yang menghubungkan semua bencana depresiasi ini bukanlah kerajinan yang buruk—melainkan posisi merek. Merek heritage tingkat atas (seperti Hermès, Chanel, Louis Vuitton) mempertahankan nilai karena kelangkaan dan citra budaya mereka. Merek menengah dan mewah yang dapat diakses tidak mendapatkan manfaat dari permintaan yang sama yang bertahan lama.
Selain itu, penurunan kondisi dari “baru” ke “baik” atau “sangat baik” menciptakan kesenjangan persepsi yang dihukum keras oleh pasar barang bekas. Pembeli yang membeli barang bekas mengharapkan diskon besar, bukan penghematan 10-15%.
Kesimpulan tentang Nilai Resale Barang Desainer
Pelajaran bagi pembeli barang mewah jelas: tidak semua pembelian mahal berfungsi sebagai lindung nilai keuangan. Sepatu wanita yang dipakai, tas menengah seperti dari Rebecca Minkoff, gaun kuno, topi, dan case ponsel hampir secara universal gagal mengembalikan biaya aslinya. Sebelum membeli, pertimbangkan apakah Anda membeli untuk kesenangan pribadi atau potensi resale—karena angka menunjukkan bahwa sebagian besar barang mewah sebenarnya tidak layak dijual ketika waktunya telah berlalu.