Secara tradisional, emas, saham, dan Bitcoin dianggap sebagai aset yang bereaksi berbeda terhadap kondisi pasar. Emas dianggap sebagai tempat berlindung yang aman, saham mewakili pertumbuhan ekonomi, dan Bitcoin sering disebut sebagai “emas digital” atau lindung nilai alternatif. Namun, pergerakan pasar terbaru telah membingungkan banyak investor karena ketiganya—emas, ekuitas, dan Bitcoin—berkoreksi secara bersamaan. Korelasi yang tidak biasa ini menimbulkan pertanyaan penting: mengapa aset-aset ini menurun bersama?
Salah satu alasan utama adalah kondisi keuangan global yang ketat. Bank sentral, terutama Federal Reserve AS, mempertahankan suku bunga yang lebih tinggi lebih lama dari yang awalnya diperkirakan pasar. Suku bunga yang tinggi meningkatkan daya tarik uang tunai dan obligasi pemerintah, yang menawarkan pengembalian yang lebih aman. Akibatnya, investor mengurangi eksposur terhadap aset yang lebih berisiko atau tidak menghasilkan seperti saham, emas, dan cryptocurrency. Ketika likuiditas mengering, hampir semua kelas aset merasakan tekanan secara bersamaan.
Faktor kunci lainnya adalah dolar AS yang kuat. Emas dan Bitcoin keduanya dipatok secara global dalam dolar, jadi ketika dolar menguat, aset-aset ini menjadi lebih mahal bagi pembeli internasional. Hal ini sering menyebabkan berkurangnya permintaan dan tekanan penurunan harga. Pada saat yang sama, dolar yang kuat dapat merugikan pendapatan perusahaan multinasional, menambah tekanan pada pasar saham. Kenaikan dolar telah bertindak sebagai hambatan umum di seluruh pasar. Perilaku institusional juga memainkan peran besar.
Dana besar dan manajer aset semakin memperlakukan Bitcoin, ETF emas, dan ekuitas sebagai bagian dari portofolio terdiversifikasi tunggal. Selama periode ketidakpastian atau sentimen risiko-tinggi, institusi mungkin melakukan rebalancing dengan menjual beberapa kelas aset sekaligus untuk mengurangi eksposur secara keseluruhan. Penjualan terkoordinasi ini dapat menyebabkan aset yang biasanya bergerak independen jatuh bersamaan.
Ketidakpastian makroekonomi juga merupakan pendorong penting. Kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan global, ketegangan geopolitik, dan inflasi yang melekat telah membuat investor berhati-hati. Ketika ketakutan mendominasi pasar, prioritas sering beralih dari mencari pengembalian ke pelestarian modal. Dalam lingkungan seperti ini, bahkan tempat berlindung yang aman seperti emas bisa dijual untuk menutupi kerugian di tempat lain atau untuk mengumpulkan kas, sehingga harga turun secara umum.
Korelasi Bitcoin yang semakin meningkat dengan saham sangat mencolok. Seiring semakin banyak investor institusional masuk ke pasar kripto, Bitcoin mulai berperilaku kurang seperti aset yang terisolasi dan lebih seperti investasi teknologi berisiko tinggi. Ini berarti bahwa ketika saham teknologi atau indeks ekuitas yang lebih luas mengalami penjualan, Bitcoin sering mengikuti tren yang sama, setidaknya dalam jangka pendek.
Penting juga untuk diingat bahwa korelasi jangka pendek tidak selalu mencerminkan fundamental jangka panjang. Meskipun emas, saham, dan Bitcoin mungkin jatuh bersamaan selama periode tekanan likuiditas atau guncangan makro, pendorong jangka panjang mereka tetap berbeda. Emas tetap berfungsi sebagai lindung nilai terhadap inflasi dari waktu ke waktu, saham mendapatkan manfaat dari ekspansi ekonomi, dan nilai Bitcoin terkait dengan adopsi dan kelangkaan.
Kesimpulannya, emas, saham, dan Bitcoin jatuh bersama karena kebijakan moneter yang ketat, dolar yang kuat, rebalancing portofolio institusional, dan ketidakpastian makro yang meningkat. Bagi investor, memahami dinamika ini sangat penting. Alih-alih bereaksi secara emosional, fokus pada strategi jangka panjang dan manajemen risiko dapat membantu menavigasi periode ketika pasar bergerak secara tidak terduga secara bersamaan.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
#MengapaSahamEmasdanBTCJatuhBersamaan?
Secara tradisional, emas, saham, dan Bitcoin dianggap sebagai aset yang bereaksi berbeda terhadap kondisi pasar. Emas dianggap sebagai tempat berlindung yang aman, saham mewakili pertumbuhan ekonomi, dan Bitcoin sering disebut sebagai “emas digital” atau lindung nilai alternatif. Namun, pergerakan pasar terbaru telah membingungkan banyak investor karena ketiganya—emas, ekuitas, dan Bitcoin—berkoreksi secara bersamaan. Korelasi yang tidak biasa ini menimbulkan pertanyaan penting: mengapa aset-aset ini menurun bersama?
Salah satu alasan utama adalah kondisi keuangan global yang ketat. Bank sentral, terutama Federal Reserve AS, mempertahankan suku bunga yang lebih tinggi lebih lama dari yang awalnya diperkirakan pasar. Suku bunga yang tinggi meningkatkan daya tarik uang tunai dan obligasi pemerintah, yang menawarkan pengembalian yang lebih aman. Akibatnya, investor mengurangi eksposur terhadap aset yang lebih berisiko atau tidak menghasilkan seperti saham, emas, dan cryptocurrency. Ketika likuiditas mengering, hampir semua kelas aset merasakan tekanan secara bersamaan.
Faktor kunci lainnya adalah dolar AS yang kuat. Emas dan Bitcoin keduanya dipatok secara global dalam dolar, jadi ketika dolar menguat, aset-aset ini menjadi lebih mahal bagi pembeli internasional. Hal ini sering menyebabkan berkurangnya permintaan dan tekanan penurunan harga. Pada saat yang sama, dolar yang kuat dapat merugikan pendapatan perusahaan multinasional, menambah tekanan pada pasar saham. Kenaikan dolar telah bertindak sebagai hambatan umum di seluruh pasar.
Perilaku institusional juga memainkan peran besar.
Dana besar dan manajer aset semakin memperlakukan Bitcoin, ETF emas, dan ekuitas sebagai bagian dari portofolio terdiversifikasi tunggal. Selama periode ketidakpastian atau sentimen risiko-tinggi, institusi mungkin melakukan rebalancing dengan menjual beberapa kelas aset sekaligus untuk mengurangi eksposur secara keseluruhan. Penjualan terkoordinasi ini dapat menyebabkan aset yang biasanya bergerak independen jatuh bersamaan.
Ketidakpastian makroekonomi juga merupakan pendorong penting. Kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan global, ketegangan geopolitik, dan inflasi yang melekat telah membuat investor berhati-hati. Ketika ketakutan mendominasi pasar, prioritas sering beralih dari mencari pengembalian ke pelestarian modal. Dalam lingkungan seperti ini, bahkan tempat berlindung yang aman seperti emas bisa dijual untuk menutupi kerugian di tempat lain atau untuk mengumpulkan kas, sehingga harga turun secara umum.
Korelasi Bitcoin yang semakin meningkat dengan saham sangat mencolok. Seiring semakin banyak investor institusional masuk ke pasar kripto, Bitcoin mulai berperilaku kurang seperti aset yang terisolasi dan lebih seperti investasi teknologi berisiko tinggi. Ini berarti bahwa ketika saham teknologi atau indeks ekuitas yang lebih luas mengalami penjualan, Bitcoin sering mengikuti tren yang sama, setidaknya dalam jangka pendek.
Penting juga untuk diingat bahwa korelasi jangka pendek tidak selalu mencerminkan fundamental jangka panjang. Meskipun emas, saham, dan Bitcoin mungkin jatuh bersamaan selama periode tekanan likuiditas atau guncangan makro, pendorong jangka panjang mereka tetap berbeda. Emas tetap berfungsi sebagai lindung nilai terhadap inflasi dari waktu ke waktu, saham mendapatkan manfaat dari ekspansi ekonomi, dan nilai Bitcoin terkait dengan adopsi dan kelangkaan.
Kesimpulannya, emas, saham, dan Bitcoin jatuh bersama karena kebijakan moneter yang ketat, dolar yang kuat, rebalancing portofolio institusional, dan ketidakpastian makro yang meningkat. Bagi investor, memahami dinamika ini sangat penting. Alih-alih bereaksi secara emosional, fokus pada strategi jangka panjang dan manajemen risiko dapat membantu menavigasi periode ketika pasar bergerak secara tidak terduga secara bersamaan.