Dalam kondisi ekonomi saat ini, harga barang dan jasa terus meningkat. Ini adalah sinyal dari inflasi yang sedang terjadi di seluruh dunia. Inflasi adalah fenomena ekonomi di mana nilai uang menurun, sehingga daya beli masyarakat melemah. Sebagai contoh, jika tahun lalu 100 baht dapat membeli 10 barang, hari ini jumlah uang yang sama mungkin hanya dapat membeli 8-9 barang saja.
Bagi investor, hal ini tidak selalu berarti kerugian. Sebaliknya, jika Anda memahami mekanisme inflasi dan merencanakan dengan cerdas, Anda dapat menghasilkan keuntungan.
Faktor Penting yang Mendorong Inflasi di Dunia Saat Ini
Permintaan barang kembali kuat setelah masa resesi ekonomi, tetapi produksi tidak mengikuti. Ini adalah fenomena yang disebut “revenge spending”. Orang-orang menghabiskan uang secara berlebihan dari sebelumnya, menyebabkan permintaan barang meningkat secara tiba-tiba.
Selain itu, biaya produksi meningkat secara signifikan, terutama minyak mentah, gas alam, besi, dan tembaga. Masalah rantai pasokan global juga masih terjadi, mulai dari kekurangan kontainer hingga kekurangan chip semikonduktor.
Data dari IMF (IMF) menunjukkan bahwa ekonomi global diperkirakan akan tumbuh sebesar 3,1% pada tahun 2024 dan 3,2% pada tahun 2025, tetapi tingkat inflasi tetap di atas target bank sentral.
Siapa yang Mendapat Manfaat dan Siapa yang Dirugikan
###Kelompok yang Mendapat Manfaat
Pengusaha dan pemilik bisnis dapat menyesuaikan harga barang sesuai kondisi. Kreditor (baik bank maupun pemberi pinjaman) mendapatkan manfaat karena nilai uang yang dipinjamkan menurun. Pemegang saham perusahaan besar memiliki kekuatan tawar yang baik.
Contoh nyata: PTT Public Company Limited ((PTT Public Company Limited)) memperoleh laba bersih sebesar 64.419 miliar baht pada semester pertama, meningkat 12,7% dibandingkan tahun sebelumnya, didukung harga minyak yang melonjak.
###Kelompok yang Dirugikan
Karyawan yang menerima gaji tetap karena kenaikan gaji biasanya lebih rendah dari tingkat inflasi. Kreditor (baik bank maupun pemberi pinjaman) harus melunasi pinjaman dengan nilai uang yang menurun, meskipun bunga tetap tinggi.
Periode Penting Inflasi dalam Sejarah Thailand
Tahun 2517 (1974), ekonomi Thailand menghadapi inflasi sebesar 24,3% akibat perang Timur Tengah yang menyebabkan harga minyak melonjak. Tahun 2523 (1980), inflasi kembali tinggi (17,8%) akibat perang Iran-Irak. Pada tahun 2540 (1997), krisis ekonomi menyebabkan baht melemah, inflasi mencapai 7,89%. Pada tahun 2551 (2008), inflasi melewati 5,51% karena kenaikan harga komoditas.
Terbaru, Mei 2022, inflasi umum Thailand mencapai 7,10%, tertinggi karena situasi perang di Eropa.
Bagaimana Perubahan Harga Barang Pokok dalam Empat Tahun Terakhir
Item
2564
2565
2566
2567
Daging babi merah
137,5 บาท/kg
205 บาท/kg
125 บาท/kg
133,31 บาท/kg
Dada ayam
67,5 บาท/kg
105 บาท/kg
80 บาท/kg
80 บาท/kg
Telur ayam
4,45 บาท/butir
5 บาท/butir
3,83-4 บาท/butir
3,9 บาท/butir
Cabai
45 บาท/kg
185 บาท/kg
200 บาท/kg
50-250 บาท/kg
Solar
28,29 บาท/liter
34,94 บาท/liter
33,44 บาท/liter
40,24 บาท/liter
Gasohol
28,75 บาท/liter
37,15 บาท/liter
35,08 บาท/liter
39,15 บาท/liter
Tabel ini menunjukkan bahwa inflasi mempengaruhi harga barang pokok. Harga daging meningkat hampir dua kali lipat, dan harga bahan bakar terus melonjak.
Perbedaan Inflasi dan Deflasi
Deflasi ((Deflation)) adalah kebalikan dari inflasi. Harga barang dan jasa menurun secara berkelanjutan. Permintaan barang berkurang, uang beredar tidak cukup, dan produsen enggan memproduksi, menyebabkan ekonomi melambat.
Karakteristik
Inflasi
Deflasi
Harga barang
Naik
Turun
Nilai uang
Menurun
Meningkat
Daya beli
Melemah
Menguat
Dampak
Umumnya positif jika tidak ekstrem
Berbahaya bagi ekonomi
Kedua kondisi ini, jika berlangsung lama dan parah, dapat mengancam pertumbuhan ekonomi dan kehidupan masyarakat.
Bagaimana Inflasi Mempengaruhi Negara dan Kehidupan Sehari-hari
Dampak pada masyarakat umum
Biaya hidup meningkat, daya beli menurun, gaji tidak cukup mengikuti inflasi, masyarakat mengurangi pengeluaran dan lebih hemat.
Dampak pada pengusaha
Harga barang naik, penjualan menurun, biaya meningkat, beberapa menunda ekspansi, mengurangi tenaga kerja, terjadi PHK, tingkat pengangguran meningkat.
Dampak pada ekonomi negara
Pertumbuhan produktivitas melambat, jika inflasi ekstrem, suku bunga riil menjadi negatif, masyarakat beralih ke spekulasi aset berisiko tinggi, menimbulkan gelembung di properti dan pasar saham, serta meningkatnya utang rumah tangga.
Strategi Melindungi Diri di Era Inflasi: Investasi yang Efektif
1. Investasi pada obligasi berbasis suku bunga mengambang (Floating Rate Bonds)
Obligasi biasa memberikan bunga tetap. Saat inflasi tinggi, bunga turun, nilai obligasi pun turun. Tetapi obligasi suku bunga mengambang bunga akan menyesuaikan dengan suku bunga acuan, sehingga hasilnya lebih menguntungkan.
2. Emas - Aset perlindungan inflasi klasik
Harga emas meningkat mengikuti inflasi. Saat inflasi tinggi, orang cenderung membeli emas sebagai pelarian. CFD emas adalah cara mendapatkan keuntungan dari trading, baik naik maupun turun.
3. Saham bank
Ketika bank sentral menaikkan suku bunga, bank komersial mendapatkan keuntungan dari margin bunga bersih (Net Interest Margin). Keuntungan meningkat, harga saham pun biasanya naik.
4. Saham energi
Perusahaan minyak dan gas mendapatkan manfaat langsung dari harga komoditas yang tinggi. Saat inflasi tinggi, harga minyak umumnya melonjak.
5. Properti
Sewa properti meningkat mengikuti inflasi, sehingga hasil dari sewa juga naik. Properti memiliki potensi apresiasi modal (capital appreciation). Jika ada dana tersisa, ini menjadi pilihan yang baik.
6. Saham makanan
Makanan adalah kebutuhan utama. Perusahaan makanan dapat menyesuaikan harga, karena biaya produksi naik. Mereka bisa meneruskan kenaikan biaya ke konsumen. Oleh karena itu, saham sektor makanan biasanya tahan terhadap inflasi.
7. Rekening tabungan bunga tinggi
Bank yang menawarkan bunga tabungan tinggi, berinvestasi di rekening deposito 12 bulan atau lebih, mendapatkan hasil lebih baik dari tabungan biasa.
Bagaimana Indikator Inflasi
Setiap bulan, Kementerian Perdagangan mengumpulkan data harga 430 item, dihitung menjadi indeks harga konsumen (CPI). Kenaikan CPI dibandingkan tahun sebelumnya disebut tingkat inflasi yang digunakan Bank Thailand sebagai indikator.
Data terbaru (Januari 2567): Indeks harga konsumen 110,3, naik 0,3% dibandingkan tahun sebelumnya. (Basis 2562 = 100). Tingkat inflasi YoY turun menjadi 1,11%, terendah dalam 35 bulan, karena harga energi turun akibat kebijakan dukungan pemerintah dan harga makanan segar meningkat.
Kesimpulan: Penyesuaian terhadap Inflasi Harus Seimbang
Inflasi dalam tingkat normal (2-3% per tahun) dianggap baik untuk ekonomi, membantu pertumbuhan bisnis, produktivitas, dan penciptaan lapangan kerja. Tetapi inflasi ekstrem (Hyper Inflation) adalah bencana. Jika Anda tahu ujungnya, mengelola uang, dan memilih investasi dengan bijak, Anda tidak hanya melindungi diri dari inflasi, tetapi juga dapat meraih keuntungan.
Selalu ikuti berita pasar karena kondisi inflasi berubah sesuai geopolitik, kejadian global, dan kebijakan bank sentral. Persiapan sebelumnya adalah kunci keberhasilan finansial di setiap siklus ekonomi.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Pemahaman Inflasi: Apa yang Harus Diketahui Investor untuk Melindungi Aset
Bagaimana Inflasi Mempengaruhi Investasi Anda
Dalam kondisi ekonomi saat ini, harga barang dan jasa terus meningkat. Ini adalah sinyal dari inflasi yang sedang terjadi di seluruh dunia. Inflasi adalah fenomena ekonomi di mana nilai uang menurun, sehingga daya beli masyarakat melemah. Sebagai contoh, jika tahun lalu 100 baht dapat membeli 10 barang, hari ini jumlah uang yang sama mungkin hanya dapat membeli 8-9 barang saja.
Bagi investor, hal ini tidak selalu berarti kerugian. Sebaliknya, jika Anda memahami mekanisme inflasi dan merencanakan dengan cerdas, Anda dapat menghasilkan keuntungan.
Faktor Penting yang Mendorong Inflasi di Dunia Saat Ini
Permintaan barang kembali kuat setelah masa resesi ekonomi, tetapi produksi tidak mengikuti. Ini adalah fenomena yang disebut “revenge spending”. Orang-orang menghabiskan uang secara berlebihan dari sebelumnya, menyebabkan permintaan barang meningkat secara tiba-tiba.
Selain itu, biaya produksi meningkat secara signifikan, terutama minyak mentah, gas alam, besi, dan tembaga. Masalah rantai pasokan global juga masih terjadi, mulai dari kekurangan kontainer hingga kekurangan chip semikonduktor.
Data dari IMF (IMF) menunjukkan bahwa ekonomi global diperkirakan akan tumbuh sebesar 3,1% pada tahun 2024 dan 3,2% pada tahun 2025, tetapi tingkat inflasi tetap di atas target bank sentral.
Siapa yang Mendapat Manfaat dan Siapa yang Dirugikan
###Kelompok yang Mendapat Manfaat
Pengusaha dan pemilik bisnis dapat menyesuaikan harga barang sesuai kondisi. Kreditor (baik bank maupun pemberi pinjaman) mendapatkan manfaat karena nilai uang yang dipinjamkan menurun. Pemegang saham perusahaan besar memiliki kekuatan tawar yang baik.
Contoh nyata: PTT Public Company Limited ((PTT Public Company Limited)) memperoleh laba bersih sebesar 64.419 miliar baht pada semester pertama, meningkat 12,7% dibandingkan tahun sebelumnya, didukung harga minyak yang melonjak.
###Kelompok yang Dirugikan
Karyawan yang menerima gaji tetap karena kenaikan gaji biasanya lebih rendah dari tingkat inflasi. Kreditor (baik bank maupun pemberi pinjaman) harus melunasi pinjaman dengan nilai uang yang menurun, meskipun bunga tetap tinggi.
Periode Penting Inflasi dalam Sejarah Thailand
Tahun 2517 (1974), ekonomi Thailand menghadapi inflasi sebesar 24,3% akibat perang Timur Tengah yang menyebabkan harga minyak melonjak. Tahun 2523 (1980), inflasi kembali tinggi (17,8%) akibat perang Iran-Irak. Pada tahun 2540 (1997), krisis ekonomi menyebabkan baht melemah, inflasi mencapai 7,89%. Pada tahun 2551 (2008), inflasi melewati 5,51% karena kenaikan harga komoditas.
Terbaru, Mei 2022, inflasi umum Thailand mencapai 7,10%, tertinggi karena situasi perang di Eropa.
Bagaimana Perubahan Harga Barang Pokok dalam Empat Tahun Terakhir
Tabel ini menunjukkan bahwa inflasi mempengaruhi harga barang pokok. Harga daging meningkat hampir dua kali lipat, dan harga bahan bakar terus melonjak.
Perbedaan Inflasi dan Deflasi
Deflasi ((Deflation)) adalah kebalikan dari inflasi. Harga barang dan jasa menurun secara berkelanjutan. Permintaan barang berkurang, uang beredar tidak cukup, dan produsen enggan memproduksi, menyebabkan ekonomi melambat.
Kedua kondisi ini, jika berlangsung lama dan parah, dapat mengancam pertumbuhan ekonomi dan kehidupan masyarakat.
Bagaimana Inflasi Mempengaruhi Negara dan Kehidupan Sehari-hari
Dampak pada masyarakat umum
Biaya hidup meningkat, daya beli menurun, gaji tidak cukup mengikuti inflasi, masyarakat mengurangi pengeluaran dan lebih hemat.
Dampak pada pengusaha
Harga barang naik, penjualan menurun, biaya meningkat, beberapa menunda ekspansi, mengurangi tenaga kerja, terjadi PHK, tingkat pengangguran meningkat.
Dampak pada ekonomi negara
Pertumbuhan produktivitas melambat, jika inflasi ekstrem, suku bunga riil menjadi negatif, masyarakat beralih ke spekulasi aset berisiko tinggi, menimbulkan gelembung di properti dan pasar saham, serta meningkatnya utang rumah tangga.
Strategi Melindungi Diri di Era Inflasi: Investasi yang Efektif
1. Investasi pada obligasi berbasis suku bunga mengambang (Floating Rate Bonds)
Obligasi biasa memberikan bunga tetap. Saat inflasi tinggi, bunga turun, nilai obligasi pun turun. Tetapi obligasi suku bunga mengambang bunga akan menyesuaikan dengan suku bunga acuan, sehingga hasilnya lebih menguntungkan.
2. Emas - Aset perlindungan inflasi klasik
Harga emas meningkat mengikuti inflasi. Saat inflasi tinggi, orang cenderung membeli emas sebagai pelarian. CFD emas adalah cara mendapatkan keuntungan dari trading, baik naik maupun turun.
3. Saham bank
Ketika bank sentral menaikkan suku bunga, bank komersial mendapatkan keuntungan dari margin bunga bersih (Net Interest Margin). Keuntungan meningkat, harga saham pun biasanya naik.
4. Saham energi
Perusahaan minyak dan gas mendapatkan manfaat langsung dari harga komoditas yang tinggi. Saat inflasi tinggi, harga minyak umumnya melonjak.
5. Properti
Sewa properti meningkat mengikuti inflasi, sehingga hasil dari sewa juga naik. Properti memiliki potensi apresiasi modal (capital appreciation). Jika ada dana tersisa, ini menjadi pilihan yang baik.
6. Saham makanan
Makanan adalah kebutuhan utama. Perusahaan makanan dapat menyesuaikan harga, karena biaya produksi naik. Mereka bisa meneruskan kenaikan biaya ke konsumen. Oleh karena itu, saham sektor makanan biasanya tahan terhadap inflasi.
7. Rekening tabungan bunga tinggi
Bank yang menawarkan bunga tabungan tinggi, berinvestasi di rekening deposito 12 bulan atau lebih, mendapatkan hasil lebih baik dari tabungan biasa.
Bagaimana Indikator Inflasi
Setiap bulan, Kementerian Perdagangan mengumpulkan data harga 430 item, dihitung menjadi indeks harga konsumen (CPI). Kenaikan CPI dibandingkan tahun sebelumnya disebut tingkat inflasi yang digunakan Bank Thailand sebagai indikator.
Data terbaru (Januari 2567): Indeks harga konsumen 110,3, naik 0,3% dibandingkan tahun sebelumnya. (Basis 2562 = 100). Tingkat inflasi YoY turun menjadi 1,11%, terendah dalam 35 bulan, karena harga energi turun akibat kebijakan dukungan pemerintah dan harga makanan segar meningkat.
Kesimpulan: Penyesuaian terhadap Inflasi Harus Seimbang
Inflasi dalam tingkat normal (2-3% per tahun) dianggap baik untuk ekonomi, membantu pertumbuhan bisnis, produktivitas, dan penciptaan lapangan kerja. Tetapi inflasi ekstrem (Hyper Inflation) adalah bencana. Jika Anda tahu ujungnya, mengelola uang, dan memilih investasi dengan bijak, Anda tidak hanya melindungi diri dari inflasi, tetapi juga dapat meraih keuntungan.
Selalu ikuti berita pasar karena kondisi inflasi berubah sesuai geopolitik, kejadian global, dan kebijakan bank sentral. Persiapan sebelumnya adalah kunci keberhasilan finansial di setiap siklus ekonomi.