Ketua Federal Reserve AS (Fed) Jerome Powell mengatakan bahwa Departemen Kehakiman AS (DOJ) telah mengirim surat panggilan dari juri besar kepada Fed dan mengancam kemungkinan penuntutan pidana. Ini adalah langkah langka, menimbulkan kekhawatiran tentang independensi Fed dan dengan cepat menjadi pusat perhatian para investor makro.
Dalam sebuah video yang diunggah pada hari Minggu, Mr. Powell mengatakan bahwa jaksa federal sedang menyelidiki kesaksiannya di depan Senat pada bulan Juni terkait proyek renovasi markas Fed di Washington senilai 2,5 miliar USD. Menurutnya, langkah hukum ini bersifat “balas dendam” karena Fed mempertahankan suku bunga lebih tinggi dari yang diinginkan oleh Presiden Donald Trump.
“Ancaman penuntutan pidana adalah konsekuensi dari Federal Reserve yang menetapkan suku bunga berdasarkan penilaian terbaik untuk kepentingan publik, bukan mengikuti keinginan Presiden,” tegas Mr. Powell.
Trump Kritik Powell Tapi Ringankan Penyidikan
Dalam wawancara dengan NBC News, Presiden Trump mengatakan bahwa dia tidak tahu apa-apa tentang penyelidikan tersebut, sekaligus secara terbuka mengkritik kemampuan kepemimpinan Powell.
“Dia tidak pandai mengelola Fed dan juga tidak pandai membangun proyek,” kata Trump, merujuk pada proyek renovasi markas.
Ketika ditanya apakah surat panggilan tersebut bertujuan memberi tekanan agar Powell menurunkan suku bunga, Trump membantah:
“Tidak. Saya bahkan tidak berpikir ke arah itu. Ini tidak ada hubungannya dengan suku bunga.”
Senat Terbelah, Warren Tuduh Penyalahgunaan Kekuasaan
Penyelidikan ini berlangsung setelah berbulan-bulan perdebatan politik seputar proyek renovasi markas Fed. Pada Juli 2025, anggota DPR Anna Paulina Luna mengirimkan petisi ke DOJ, meminta penyelidikan terhadap Mr. Powell terkait kemungkinan pemalsuan dan pernyataan palsu dalam sidang di Komite Perbankan Senat.
Di Capitol Hill, Senator Partai Republik Thom Tillis menyatakan akan menolak persetujuan calon-calon Fed di masa depan sampai kasus ini diungkap, sekaligus memperingatkan bahwa konfrontasi ini menimbulkan pertanyaan tentang independensi DOJ sendiri.
Sebaliknya, Senator Demokrat Elizabeth Warren menuduh Presiden Trump “menyalahgunakan kekuasaan Departemen Kehakiman seperti seorang otoriter yang sedang belajar untuk memaksa Fed melayani kepentingannya dan para miliarder yang dekat.”
Pasar Waspada Risiko Sistemik
Pasar menganggap ini sebagai risiko sistemik baru yang muncul. Para trader memantau secara ketat perkembangan dolar AS, ekspektasi suku bunga, dan indikator volatilitas — faktor-faktor yang biasanya mempengaruhi langsung likuiditas, leverage, dan posisi di pasar mata uang kripto.
Masa jabatan Ketua Fed Powell akan berakhir pada Mei 2026, tetapi dia bisa tetap di Dewan Gubernur hingga 2028. Hal ini menjadikan pemilihan Ketua Fed berikutnya oleh Presiden Trump sebagai “pemicu” utama kebijakan suku bunga, dolar AS, dan prospek makro Bitcoin dalam waktu dekat.
Singkatnya, ketegangan antara Gedung Putih, DOJ, dan Fed sedang mengembalikan isu independensi bank sentral AS ke pusat perhatian. Dalam konteks politik-hukum yang meningkat, para investor global harus bersiap menghadapi volatilitas yang lebih besar di pasar keuangan, mulai dari obligasi, valuta asing, hingga mata uang kripto.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Powell Mengungkapkan Fed Mendapat Surat Panggilan dari DOJ, Trump Membantah Terkait Suku Bunga
Ketua Federal Reserve AS (Fed) Jerome Powell mengatakan bahwa Departemen Kehakiman AS (DOJ) telah mengirim surat panggilan dari juri besar kepada Fed dan mengancam kemungkinan penuntutan pidana. Ini adalah langkah langka, menimbulkan kekhawatiran tentang independensi Fed dan dengan cepat menjadi pusat perhatian para investor makro. Dalam sebuah video yang diunggah pada hari Minggu, Mr. Powell mengatakan bahwa jaksa federal sedang menyelidiki kesaksiannya di depan Senat pada bulan Juni terkait proyek renovasi markas Fed di Washington senilai 2,5 miliar USD. Menurutnya, langkah hukum ini bersifat “balas dendam” karena Fed mempertahankan suku bunga lebih tinggi dari yang diinginkan oleh Presiden Donald Trump. “Ancaman penuntutan pidana adalah konsekuensi dari Federal Reserve yang menetapkan suku bunga berdasarkan penilaian terbaik untuk kepentingan publik, bukan mengikuti keinginan Presiden,” tegas Mr. Powell. Trump Kritik Powell Tapi Ringankan Penyidikan Dalam wawancara dengan NBC News, Presiden Trump mengatakan bahwa dia tidak tahu apa-apa tentang penyelidikan tersebut, sekaligus secara terbuka mengkritik kemampuan kepemimpinan Powell. “Dia tidak pandai mengelola Fed dan juga tidak pandai membangun proyek,” kata Trump, merujuk pada proyek renovasi markas. Ketika ditanya apakah surat panggilan tersebut bertujuan memberi tekanan agar Powell menurunkan suku bunga, Trump membantah: “Tidak. Saya bahkan tidak berpikir ke arah itu. Ini tidak ada hubungannya dengan suku bunga.” Senat Terbelah, Warren Tuduh Penyalahgunaan Kekuasaan Penyelidikan ini berlangsung setelah berbulan-bulan perdebatan politik seputar proyek renovasi markas Fed. Pada Juli 2025, anggota DPR Anna Paulina Luna mengirimkan petisi ke DOJ, meminta penyelidikan terhadap Mr. Powell terkait kemungkinan pemalsuan dan pernyataan palsu dalam sidang di Komite Perbankan Senat. Di Capitol Hill, Senator Partai Republik Thom Tillis menyatakan akan menolak persetujuan calon-calon Fed di masa depan sampai kasus ini diungkap, sekaligus memperingatkan bahwa konfrontasi ini menimbulkan pertanyaan tentang independensi DOJ sendiri. Sebaliknya, Senator Demokrat Elizabeth Warren menuduh Presiden Trump “menyalahgunakan kekuasaan Departemen Kehakiman seperti seorang otoriter yang sedang belajar untuk memaksa Fed melayani kepentingannya dan para miliarder yang dekat.” Pasar Waspada Risiko Sistemik Pasar menganggap ini sebagai risiko sistemik baru yang muncul. Para trader memantau secara ketat perkembangan dolar AS, ekspektasi suku bunga, dan indikator volatilitas — faktor-faktor yang biasanya mempengaruhi langsung likuiditas, leverage, dan posisi di pasar mata uang kripto. Masa jabatan Ketua Fed Powell akan berakhir pada Mei 2026, tetapi dia bisa tetap di Dewan Gubernur hingga 2028. Hal ini menjadikan pemilihan Ketua Fed berikutnya oleh Presiden Trump sebagai “pemicu” utama kebijakan suku bunga, dolar AS, dan prospek makro Bitcoin dalam waktu dekat. Singkatnya, ketegangan antara Gedung Putih, DOJ, dan Fed sedang mengembalikan isu independensi bank sentral AS ke pusat perhatian. Dalam konteks politik-hukum yang meningkat, para investor global harus bersiap menghadapi volatilitas yang lebih besar di pasar keuangan, mulai dari obligasi, valuta asing, hingga mata uang kripto.