Mengapa lembaga keuangan menyarankan kita untuk merencanakan pengelolaan uang?
Di era ini, kehidupan tidak pasti seperti tahun lalu. Krisis ekonomi berulang, pandemi menyebabkan pendapatan berkurang, dan semua barang yang bisa dibeli menjadi lebih mahal secara terus-menerus. Banyak orang menyadari bahwa mereka tidak memiliki tabungan, tidak tahu ke mana pengeluaran mereka pergi, dan saat krisis muncul harus meminjam uang karena tidak ada cadangan dana.
Merencanakan pengelolaan uang bukan hanya untuk orang kaya, tetapi penting bagi semua orang, mulai dari karyawan pemula hingga eksekutif, karena membantu kita memiliki kestabilan keuangan di berbagai tahap kehidupan.
Mengapa banyak orang yang “gaji habis setelah 5 hari”?
Masalahnya bermacam-macam:
1. Umur harapan hidup meningkat tetapi dana pensiun tidak cukup
Menurut statistik, ada 100 orang, tetapi saat pensiun hanya 25 orang yang memiliki cukup uang. Rata-rata orang Thailand memiliki umur harapan hidup 71-78 tahun. Jika pensiun di usia 60 tahun, harus mengelola dana untuk 15-20 tahun lagi.
Contoh sederhana: jika ingin Rp30.000.000/bulan setelah pensiun sampai usia 80 tahun, maka (Rp30.000.000 × 12 bulan × 20 tahun) = Rp7,2 miliar (belum termasuk inflasi)
Tapi apa yang didapat dari pemerintah? Tunjangan lansia hanya Rp600.000/bulan dan dana jaminan sosial hanya Rp3.000.000/bulan. Tidak cukup benar-benar.
2. Struktur keluarga berubah, jumlah anak berkurang
Dulu, orang tua bergantung pada anak-anak. Tapi saat ini, orang memiliki 1-2 anak dan anak sendiri juga bekerja keras, berhutang banyak, tidak ada sisa uang untuk menabung. Berapa banyak yang bisa membantu orang tua?
3. Inflasi menggerogoti nilai uang
20 tahun lalu, harga seporsi nasi dengan lauk sekitar Rp20.000. Sekarang Rp50.000. Mi ayam dulu seharga Rp5-10. Sekarang 40-50 ribu.
Kalau menunggu lagi 30 tahun, barang yang dibeli hari ini mungkin akan 2-3 kali lebih mahal. Uang yang sama akan membeli lebih sedikit. Siapa yang tidak merencanakan investasi pasti akan kalah oleh inflasi.
4. Jaminan sosial pemerintah tidak cukup
Dalam 15 tahun, proporsi orang berusia 60+ akan meningkat menjadi 20% (1 dari 5 orang Thailand). Sementara jumlah pekerja: lansia berkurang dari 6:1 menjadi 3:1. Pajak yang dikumpulkan pemerintah tidak cukup untuk membayar seluruh kesejahteraan, jadi harus bergantung pada diri sendiri.
5. Produk keuangan semakin kompleks
Dulu, siapa saja yang menabung di bank akan mendapatkan bunga yang menarik. Sekarang, suku bunga terendah hanya 1-2%. Jika ingin hasil yang baik, harus belajar tentang saham, reksa dana, obligasi, kripto, dll. Ada lebih dari 1.500 produk dengan risiko berbeda-beda. Harus memilih yang sesuai dengan diri sendiri.
6. Ketidakpastian hidup semakin meningkat
Covid membuat banyak orang kehilangan pekerjaan. Belum dapat pekerjaan baru, harus dirawat di rumah sakit, barang yang dibeli hilang. Tanpa cadangan dana, akan gagal dengan cepat.
Jawaban: Bagaimana merencanakan pengelolaan uang agar berhasil?
Prinsip dasar perencanaan yang harus diketahui
1. Mengelola sistem pemasukan dan pengeluaran secara jelas
Anggaran bukan berarti menahan diri dari menggunakan uang, tetapi mengendalikan agar tahu ke mana uang pergi. Pantau pengeluaran secara rutin. Cobalah catat mulai hari ini selama 7 hari ke atas. Nanti akan terlihat pola pengeluaran dan bisa disesuaikan.
2. Menabung dan berinvestasi adalah fondasi
Bukan menabung setelah pengeluaran, tetapi menyisihkan uang terlebih dahulu baru gunakan sisanya. Mulai dari 10% dari pendapatan, kurangi pengeluaran agar stabil.
Gunakan sisa uang untuk berinvestasi sesuai prinsip: orang usia 25-35 tahun mungkin bisa mengambil risiko tinggi (saham, reksa dana saham). Orang usia 35-45 tahun kurangi risiko (campurkan). Orang di atas 45 tahun rencanakan kestabilan (obligasi, properti).
3. Mengelola risiko dari kecelakaan tak terduga
Asuransi jiwa, asuransi kesehatan, asuransi penyakit kritis penting. Bukan kemewahan, karena sakit parah membutuhkan biaya besar dan kehilangan penghasilan. Dengan asuransi, keluarga akan aman.
4. Rencanakan pajak dengan baik
Investasi di dana pensiun (RMF) bisa mengurangi pajak. Investasi di saham lokal (LTF) juga bisa mengurangi pajak. Kalau tidak tahu, akan kehilangan peluang.
5. Rencanakan masa pensiun sejak muda
Semakin cepat mulai, semakin besar hasilnya (bunga majemuk). Bandingkan:
Orang menabung rutin
Orang tidak menabung
Tabungan awal
Rp10.000.000
Rp10.000.000
Menabung setiap bulan
Rp5.000.000
Rp0
Periode
15 tahun
15 tahun
Rata-rata hasil
5% per tahun
1% (hanya di bank)
Tabungan di masa depan
Rp1.357.582.000
Rp11.607.000
Perbedaannya adalah sekitar Rp1,3 miliar. Sangat besar!
Langkah yang bisa dimulai hari ini
Langkah 1: Tetapkan tujuan hidup yang jelas
Bukan hanya menabung, tetapi tahu untuk apa.
Beli rumah/mobil, butuh berapa tahun?
Liburan ke luar negeri, berapa biayanya?
Menikah, harus menyiapkan berapa?
Pensiun, harus menabung berapa? (Banyak orang lupa soal ini!)
Buat daftar yang jelas, lengkap dengan perkiraan biaya dan target waktu.
Langkah 2: Catat pemasukan dan pengeluaran selama satu bulan
Banyak orang tidak tahu ke mana uang mereka pergi. Cobalah catat setiap hari:
Gaji/pemasukan
Biaya makan, air, listrik, tempat tinggal, lain-lain
Pengeluaran konsumtif (merek, game, hiburan)
Setelah 30 hari, Anda akan melihat gambaran mana yang penting, mana yang bisa dipotong.
Langkah 3: Buat “laporan keuangan” pribadi
Cobalah catat:
Aset total: uang di rekening, investasi, nilai rumah, mobil, emas, barang berharga
Kewajiban total: hutang rumah, mobil, kartu kredit, hutang di luar sistem, hutang lain
Aset - kewajiban = kekayaan bersih (kekayaan sejati)
Bulan pertama mungkin berat, tapi 1-2 bulan kemudian akan terbiasa.
Penting: Total hutang tidak boleh lebih dari 45% dari pendapatan.
Contoh: Pendapatan Rp20.000.000, cicilan hutang tidak boleh lebih dari Rp9.000.000.
Kalau lebih, hidup akan sulit.
Langkah 7: Tambah penghasilan dari sumber lain
Covid memberi pelajaran: mengandalkan satu penghasilan terlalu berisiko.
Coba manfaatkan kemampuan dan waktu luang untuk menambah penghasilan sampingan. Saat ini, side hustle bukan lagi kemewahan, tetapi cara bertahan hidup.
Langkah 8: Biarkan uang kita “bekerja”
Kalau dibiarkan uang tidur tanpa diinvestasi, inflasi akan menggerogoti nilai uang. Harus buat uang bekerja dan mendapatkan hasil.
Investasikan sesuai pemahaman dan risiko yang mampu ditanggung:
Hanya dari memilih investasi yang tepat, hasilnya bertambah Rp8,5 miliar!
Langkah 9: Investasikan dalam pengetahuan (ilmu pengetahuan)
Baca artikel keuangan, tonton YouTube, dengarkan podcast, atau webinar tentang perencanaan keuangan.
Dengan belajar dan berinvestasi sejak dini, Anda bisa mengurangi kerugian dan kesalahan yang bodoh.
Ringkasan: Panduan keuangan untuk pekerja
Jika Anda menabung Rp5.000.000/bulan dengan hasil 5% per tahun selama 30 tahun:
Tahun 10: Rp813.000.000
Tahun 20: Rp2.054.000.000
Tahun 30: Rp4.143.000.000
Dibandingkan orang yang tidak menabung, perbedaannya sangat besar.
Bukan orang kaya yang merencanakan keuangan, tetapi orang yang merencanakan keuangan dengan baik akan semakin kaya.
Hari ini adalah hari pertama Anda merencanakan pengelolaan uang. Cobalah mulai dari mencatat pemasukan dan pengeluaran selama 7 hari. Setelah itu, ikuti langkah-langkah berikutnya. Dalam 5 tahun ke depan, Anda pasti akan berterima kasih pada diri sendiri. Semangat!
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Masalah penggunaan uang oleh generasi muda dan solusi cerdas untuk mengatasinya
Mengapa lembaga keuangan menyarankan kita untuk merencanakan pengelolaan uang?
Di era ini, kehidupan tidak pasti seperti tahun lalu. Krisis ekonomi berulang, pandemi menyebabkan pendapatan berkurang, dan semua barang yang bisa dibeli menjadi lebih mahal secara terus-menerus. Banyak orang menyadari bahwa mereka tidak memiliki tabungan, tidak tahu ke mana pengeluaran mereka pergi, dan saat krisis muncul harus meminjam uang karena tidak ada cadangan dana.
Merencanakan pengelolaan uang bukan hanya untuk orang kaya, tetapi penting bagi semua orang, mulai dari karyawan pemula hingga eksekutif, karena membantu kita memiliki kestabilan keuangan di berbagai tahap kehidupan.
Mengapa banyak orang yang “gaji habis setelah 5 hari”?
Masalahnya bermacam-macam:
1. Umur harapan hidup meningkat tetapi dana pensiun tidak cukup
Menurut statistik, ada 100 orang, tetapi saat pensiun hanya 25 orang yang memiliki cukup uang. Rata-rata orang Thailand memiliki umur harapan hidup 71-78 tahun. Jika pensiun di usia 60 tahun, harus mengelola dana untuk 15-20 tahun lagi.
Contoh sederhana: jika ingin Rp30.000.000/bulan setelah pensiun sampai usia 80 tahun, maka (Rp30.000.000 × 12 bulan × 20 tahun) = Rp7,2 miliar (belum termasuk inflasi)
Tapi apa yang didapat dari pemerintah? Tunjangan lansia hanya Rp600.000/bulan dan dana jaminan sosial hanya Rp3.000.000/bulan. Tidak cukup benar-benar.
2. Struktur keluarga berubah, jumlah anak berkurang
Dulu, orang tua bergantung pada anak-anak. Tapi saat ini, orang memiliki 1-2 anak dan anak sendiri juga bekerja keras, berhutang banyak, tidak ada sisa uang untuk menabung. Berapa banyak yang bisa membantu orang tua?
3. Inflasi menggerogoti nilai uang
20 tahun lalu, harga seporsi nasi dengan lauk sekitar Rp20.000. Sekarang Rp50.000. Mi ayam dulu seharga Rp5-10. Sekarang 40-50 ribu.
Kalau menunggu lagi 30 tahun, barang yang dibeli hari ini mungkin akan 2-3 kali lebih mahal. Uang yang sama akan membeli lebih sedikit. Siapa yang tidak merencanakan investasi pasti akan kalah oleh inflasi.
4. Jaminan sosial pemerintah tidak cukup
Dalam 15 tahun, proporsi orang berusia 60+ akan meningkat menjadi 20% (1 dari 5 orang Thailand). Sementara jumlah pekerja: lansia berkurang dari 6:1 menjadi 3:1. Pajak yang dikumpulkan pemerintah tidak cukup untuk membayar seluruh kesejahteraan, jadi harus bergantung pada diri sendiri.
5. Produk keuangan semakin kompleks
Dulu, siapa saja yang menabung di bank akan mendapatkan bunga yang menarik. Sekarang, suku bunga terendah hanya 1-2%. Jika ingin hasil yang baik, harus belajar tentang saham, reksa dana, obligasi, kripto, dll. Ada lebih dari 1.500 produk dengan risiko berbeda-beda. Harus memilih yang sesuai dengan diri sendiri.
6. Ketidakpastian hidup semakin meningkat
Covid membuat banyak orang kehilangan pekerjaan. Belum dapat pekerjaan baru, harus dirawat di rumah sakit, barang yang dibeli hilang. Tanpa cadangan dana, akan gagal dengan cepat.
Jawaban: Bagaimana merencanakan pengelolaan uang agar berhasil?
Prinsip dasar perencanaan yang harus diketahui
1. Mengelola sistem pemasukan dan pengeluaran secara jelas
Anggaran bukan berarti menahan diri dari menggunakan uang, tetapi mengendalikan agar tahu ke mana uang pergi. Pantau pengeluaran secara rutin. Cobalah catat mulai hari ini selama 7 hari ke atas. Nanti akan terlihat pola pengeluaran dan bisa disesuaikan.
2. Menabung dan berinvestasi adalah fondasi
Bukan menabung setelah pengeluaran, tetapi menyisihkan uang terlebih dahulu baru gunakan sisanya. Mulai dari 10% dari pendapatan, kurangi pengeluaran agar stabil.
Gunakan sisa uang untuk berinvestasi sesuai prinsip: orang usia 25-35 tahun mungkin bisa mengambil risiko tinggi (saham, reksa dana saham). Orang usia 35-45 tahun kurangi risiko (campurkan). Orang di atas 45 tahun rencanakan kestabilan (obligasi, properti).
3. Mengelola risiko dari kecelakaan tak terduga
Asuransi jiwa, asuransi kesehatan, asuransi penyakit kritis penting. Bukan kemewahan, karena sakit parah membutuhkan biaya besar dan kehilangan penghasilan. Dengan asuransi, keluarga akan aman.
4. Rencanakan pajak dengan baik
Investasi di dana pensiun (RMF) bisa mengurangi pajak. Investasi di saham lokal (LTF) juga bisa mengurangi pajak. Kalau tidak tahu, akan kehilangan peluang.
5. Rencanakan masa pensiun sejak muda
Semakin cepat mulai, semakin besar hasilnya (bunga majemuk). Bandingkan:
Perbedaannya adalah sekitar Rp1,3 miliar. Sangat besar!
Langkah yang bisa dimulai hari ini
Langkah 1: Tetapkan tujuan hidup yang jelas
Bukan hanya menabung, tetapi tahu untuk apa.
Buat daftar yang jelas, lengkap dengan perkiraan biaya dan target waktu.
Langkah 2: Catat pemasukan dan pengeluaran selama satu bulan
Banyak orang tidak tahu ke mana uang mereka pergi. Cobalah catat setiap hari:
Setelah 30 hari, Anda akan melihat gambaran mana yang penting, mana yang bisa dipotong.
Langkah 3: Buat “laporan keuangan” pribadi
Cobalah catat:
Aset - kewajiban = kekayaan bersih (kekayaan sejati)
Contoh: aset Rp5 miliar, hutang Rp3 miliar, kekayaan bersih Rp2 miliar.
Lakukan ini setiap tahun untuk melihat perkembangan.
Langkah 4: Siapkan dana “darurat” (Emergency Fund)
Kalau tiba-tiba kehilangan pekerjaan, sakit parah, kejadian penting, uang habis, rumah atau pekerjaan tidak bisa dilanjutkan. Krisis!
Harus siapkan dana cadangan minimal 3-6 kali pengeluaran bulanan.
Simpan di tempat aman, likuid tinggi, bisa dicairkan kapan saja, seperti rekening tabungan atau dana pasar uang.
Langkah 5: Kenali risiko diri dan lindungi
Banyak orang menabung, tapi saat terjadi kecelakaan atau sakit, uang habis, hutang bertambah, keluarga dalam krisis.
Harus punya:
Penting: Bukan pilihan, tetapi keharusan.
Langkah 6: Gunakan metode “menabung dulu” bukan “sisa-sisa”
Rumus salah: Pemasukan - Pengeluaran = Tabungan (Tidak cukup!)
Rumus benar: Pemasukan - Tabungan = Pengeluaran (Kurangi pengeluaran!)
Bulan pertama mungkin berat, tapi 1-2 bulan kemudian akan terbiasa.
Penting: Total hutang tidak boleh lebih dari 45% dari pendapatan.
Contoh: Pendapatan Rp20.000.000, cicilan hutang tidak boleh lebih dari Rp9.000.000.
Kalau lebih, hidup akan sulit.
Langkah 7: Tambah penghasilan dari sumber lain
Covid memberi pelajaran: mengandalkan satu penghasilan terlalu berisiko.
Coba manfaatkan kemampuan dan waktu luang untuk menambah penghasilan sampingan. Saat ini, side hustle bukan lagi kemewahan, tetapi cara bertahan hidup.
Langkah 8: Biarkan uang kita “bekerja”
Kalau dibiarkan uang tidur tanpa diinvestasi, inflasi akan menggerogoti nilai uang. Harus buat uang bekerja dan mendapatkan hasil.
Investasikan sesuai pemahaman dan risiko yang mampu ditanggung:
Contoh perbandingan (20 tahun):
Hanya dari memilih investasi yang tepat, hasilnya bertambah Rp8,5 miliar!
Langkah 9: Investasikan dalam pengetahuan (ilmu pengetahuan)
Baca artikel keuangan, tonton YouTube, dengarkan podcast, atau webinar tentang perencanaan keuangan.
Dengan belajar dan berinvestasi sejak dini, Anda bisa mengurangi kerugian dan kesalahan yang bodoh.
Ringkasan: Panduan keuangan untuk pekerja
Jika Anda menabung Rp5.000.000/bulan dengan hasil 5% per tahun selama 30 tahun:
Dibandingkan orang yang tidak menabung, perbedaannya sangat besar.
Bukan orang kaya yang merencanakan keuangan, tetapi orang yang merencanakan keuangan dengan baik akan semakin kaya.
Hari ini adalah hari pertama Anda merencanakan pengelolaan uang. Cobalah mulai dari mencatat pemasukan dan pengeluaran selama 7 hari. Setelah itu, ikuti langkah-langkah berikutnya. Dalam 5 tahun ke depan, Anda pasti akan berterima kasih pada diri sendiri. Semangat!