Ketika kita menghadapi keputusan untuk berinvestasi dalam berbagai aset fixed income, kita membutuhkan metrik yang dapat diandalkan yang melampaui sekadar kupon yang ditawarkan. Di situlah peran Tingkat Pengembalian Internal, yang biasa dikenal sebagai TIR, menjadi alat yang penting untuk menilai profitabilitas nyata dari investasi kita.
Mengapa TIR lebih relevan daripada kupon obligasi?
Banyak investor melakukan kesalahan dengan hanya fokus pada persentase kupon yang dijanjikan oleh obligasi, tanpa mempertimbangkan harga pembeliannya. Di sinilah pentingnya memahami rumus TIR: memungkinkan kita menghitung pengembalian efektif dengan mempertimbangkan tidak hanya pembayaran berkala, tetapi juga keuntungan atau kerugian yang akan kita peroleh saat jatuh tempo.
Bayangkan dua skenario. Obligasi A membayar kupon 8% tetapi diperdagangkan pada 105 € (di atas nilai nominal), sementara obligasi B membagikan kupon 5% tetapi diperdagangkan pada 95 € (di bawah nilai nominal). Sekilas, tampaknya A lebih unggul. Namun, ketika kita menerapkan rumus TIR dengan benar, kita menemukan bahwa B menawarkan pengembalian yang lebih tinggi karena pembelian di bawah nilai nominal menghasilkan keuntungan modal saat jatuh tempo.
Apa sebenarnya TIR itu?
Tingkat Pengembalian Internal adalah tingkat bunga yang dinyatakan dalam persentase yang menangkap total pengembalian dari sebuah obligasi. Angka ini menggabungkan dua komponen utama:
Arus kupon: Adalah pembayaran yang dilakukan penerbit selama masa obligasi, baik tahunan, semi tahunan, maupun triwulanan. Bisa tetap, variabel, atau mengambang (tergantung indeks inflasi).
Revaluasi atau devaluasi harga: Jika kita membeli obligasi seharga 94 € yang akan dilunasi pada 100 € saat jatuh tempo, kita menangkap selisih tersebut sebagai keuntungan. Sebaliknya, jika membayar 106 €, kita mengasumsikan kerugian pasti sebesar 6 €.
Di mana N mewakili nilai nominal (biasanya 100 € atau 1.000 €).
Meskipun rumus TIR ini tampak kompleks, tersedia kalkulator online yang mengotomatisasi proses ini dengan memasukkan hanya data dasar.
Kasus praktis: Memahami rumus TIR dengan contoh nyata
Kasus 1: Pembelian di bawah nilai nominal
Kita memiliki obligasi yang diperdagangkan pada 94,5 €, dengan kupon tahunan 6% dan jatuh tempo 4 tahun. Dengan menerapkan rumus TIR, kita mendapatkan: TIR = 7,62%
Perhatikan bahwa TIR (7,62%) secara signifikan melebihi kupon (6%). Hal ini terjadi karena diskonto saat pembelian meningkatkan pengembalian akhir.
Kasus 2: Pembelian di atas nilai nominal
Obligasi yang sama sekarang diperdagangkan pada 107,5 € dengan karakteristik kupon (6%) dan jangka waktu (4 tahun). Ketika menerapkan rumus TIR, hasilnya adalah: TIR = 3,93%
Pembelian di atas nilai nominal menghasilkan kerugian tersembunyi yang secara drastis mengurangi pengembalian nyata, hampir setengah dari kupon yang dijanjikan.
Perbedaan mendasar: TIR vs TIN vs TAE
Penting untuk tidak bingung antara metrik ini, karena masing-masing mengukur aspek berbeda:
TIR mencerminkan pengembalian total dengan mendiskontokan arus kas dan harga pembelian. Ini adalah ukuran paling lengkap untuk obligasi.
TIN (Tasa de Interés Nominal) hanyalah persentase yang disepakati tanpa memasukkan biaya tambahan. Dalam hipotek, misalnya, kita bisa melihat TIN sebesar 2%.
TAE (Tasa Anual Equivalente) mencakup semua biaya tambahan: komisi, asuransi, dll. Dalam hipotek yang sama, TAE bisa mencapai 3,26% setelah memasukkan biaya-biaya ini.
Bunga Teknik digunakan dalam produk asuransi dan mencakup biaya asuransi jiwa yang terkait.
Faktor yang mempengaruhi hasil TIR
Tanpa perlu melakukan perhitungan rumit, kita dapat memperkirakan pergerakan TIR dengan mempertimbangkan elemen-elemen berikut:
Kupon lebih tinggi: Meningkatkan TIR secara proporsional.
Harga pembelian di bawah nilai nominal: Meningkatkan TIR dengan menambahkan keuntungan pasti saat jatuh tempo.
Harga pembelian di atas nilai nominal: Mengurangi TIR karena kerugian pasti.
Karakteristik khusus: Obligasi konversi, obligasi terkait inflasi, atau produk terstruktur lainnya dapat mengalami perubahan TIR sesuai dengan evolusi aset dasar.
Aplikasi dalam pemilihan investasi
Ketika kita menganalisis beberapa peluang fixed income, rumus TIR memberi kita kriteria objektif untuk perbandingan. Ini memungkinkan kita mengidentifikasi aset mana yang akan memberikan pengembalian tertinggi setelah mempertimbangkan semua faktor relevan.
Misalnya, kita membandingkan obligasi korporasi dari perusahaan A dengan obligasi pemerintah dari negara B. Meskipun yang pertama menawarkan kupon 9% dan yang kedua hanya 4%, jika rumus TIR menunjukkan bahwa B menghasilkan 6,5% sementara A hanya mencapai 4,8%, keputusan sebaiknya mengarah ke yang kedua dengan mempertimbangkan profil risiko juga.
Peringatan terakhir: Pengembalian vs keamanan kredit
Meskipun rumus TIR adalah alat yang kuat, tidak pernah boleh menjadi satu-satunya kriteria pengambilan keputusan. Sejarah memberi kita contoh yang nyata: selama krisis Yunani 2015, obligasi Yunani 10 tahun menawarkan TIR di atas 19%, angka yang secara ekstrem tinggi yang mencerminkan risiko default yang akan datang.
Hanya intervensi Zona Euro yang mencegah Yunani gagal memenuhi kewajibannya. Investor yang mengejar TIR luar biasa tersebut tanpa menganalisis solvabilitas penerbit mengalami kerugian besar.
Oleh karena itu, gunakan rumus TIR sebagai kompas untuk mengidentifikasi peluang, tetapi selalu navigasikan dengan mempertimbangkan kualitas kredit penerbit dan kondisi makroekonomi yang memengaruhi investasi.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Rumus IRR: Sekutu Anda untuk memilih antara investasi obligasi
Ketika kita menghadapi keputusan untuk berinvestasi dalam berbagai aset fixed income, kita membutuhkan metrik yang dapat diandalkan yang melampaui sekadar kupon yang ditawarkan. Di situlah peran Tingkat Pengembalian Internal, yang biasa dikenal sebagai TIR, menjadi alat yang penting untuk menilai profitabilitas nyata dari investasi kita.
Mengapa TIR lebih relevan daripada kupon obligasi?
Banyak investor melakukan kesalahan dengan hanya fokus pada persentase kupon yang dijanjikan oleh obligasi, tanpa mempertimbangkan harga pembeliannya. Di sinilah pentingnya memahami rumus TIR: memungkinkan kita menghitung pengembalian efektif dengan mempertimbangkan tidak hanya pembayaran berkala, tetapi juga keuntungan atau kerugian yang akan kita peroleh saat jatuh tempo.
Bayangkan dua skenario. Obligasi A membayar kupon 8% tetapi diperdagangkan pada 105 € (di atas nilai nominal), sementara obligasi B membagikan kupon 5% tetapi diperdagangkan pada 95 € (di bawah nilai nominal). Sekilas, tampaknya A lebih unggul. Namun, ketika kita menerapkan rumus TIR dengan benar, kita menemukan bahwa B menawarkan pengembalian yang lebih tinggi karena pembelian di bawah nilai nominal menghasilkan keuntungan modal saat jatuh tempo.
Apa sebenarnya TIR itu?
Tingkat Pengembalian Internal adalah tingkat bunga yang dinyatakan dalam persentase yang menangkap total pengembalian dari sebuah obligasi. Angka ini menggabungkan dua komponen utama:
Arus kupon: Adalah pembayaran yang dilakukan penerbit selama masa obligasi, baik tahunan, semi tahunan, maupun triwulanan. Bisa tetap, variabel, atau mengambang (tergantung indeks inflasi).
Revaluasi atau devaluasi harga: Jika kita membeli obligasi seharga 94 € yang akan dilunasi pada 100 € saat jatuh tempo, kita menangkap selisih tersebut sebagai keuntungan. Sebaliknya, jika membayar 106 €, kita mengasumsikan kerugian pasti sebesar 6 €.
Rumus TIR dalam praktik
Untuk menghitung TIR, kita perlu mengetahui tiga variabel: harga saat ini dari obligasi (P), kupon berkala © yang dinyatakan dalam persentase, dan waktu sampai jatuh tempo (n) dalam tahun.
Ekspresi matematis yang kita gunakan adalah:
P = C/(1+TIR)¹ + C/(1+TIR)² + … + C/(1+TIR)ⁿ + N/(1+TIR)ⁿ
Di mana N mewakili nilai nominal (biasanya 100 € atau 1.000 €).
Meskipun rumus TIR ini tampak kompleks, tersedia kalkulator online yang mengotomatisasi proses ini dengan memasukkan hanya data dasar.
Kasus praktis: Memahami rumus TIR dengan contoh nyata
Kasus 1: Pembelian di bawah nilai nominal
Kita memiliki obligasi yang diperdagangkan pada 94,5 €, dengan kupon tahunan 6% dan jatuh tempo 4 tahun. Dengan menerapkan rumus TIR, kita mendapatkan: TIR = 7,62%
Perhatikan bahwa TIR (7,62%) secara signifikan melebihi kupon (6%). Hal ini terjadi karena diskonto saat pembelian meningkatkan pengembalian akhir.
Kasus 2: Pembelian di atas nilai nominal
Obligasi yang sama sekarang diperdagangkan pada 107,5 € dengan karakteristik kupon (6%) dan jangka waktu (4 tahun). Ketika menerapkan rumus TIR, hasilnya adalah: TIR = 3,93%
Pembelian di atas nilai nominal menghasilkan kerugian tersembunyi yang secara drastis mengurangi pengembalian nyata, hampir setengah dari kupon yang dijanjikan.
Perbedaan mendasar: TIR vs TIN vs TAE
Penting untuk tidak bingung antara metrik ini, karena masing-masing mengukur aspek berbeda:
TIR mencerminkan pengembalian total dengan mendiskontokan arus kas dan harga pembelian. Ini adalah ukuran paling lengkap untuk obligasi.
TIN (Tasa de Interés Nominal) hanyalah persentase yang disepakati tanpa memasukkan biaya tambahan. Dalam hipotek, misalnya, kita bisa melihat TIN sebesar 2%.
TAE (Tasa Anual Equivalente) mencakup semua biaya tambahan: komisi, asuransi, dll. Dalam hipotek yang sama, TAE bisa mencapai 3,26% setelah memasukkan biaya-biaya ini.
Bunga Teknik digunakan dalam produk asuransi dan mencakup biaya asuransi jiwa yang terkait.
Faktor yang mempengaruhi hasil TIR
Tanpa perlu melakukan perhitungan rumit, kita dapat memperkirakan pergerakan TIR dengan mempertimbangkan elemen-elemen berikut:
Kupon lebih tinggi: Meningkatkan TIR secara proporsional.
Harga pembelian di bawah nilai nominal: Meningkatkan TIR dengan menambahkan keuntungan pasti saat jatuh tempo.
Harga pembelian di atas nilai nominal: Mengurangi TIR karena kerugian pasti.
Karakteristik khusus: Obligasi konversi, obligasi terkait inflasi, atau produk terstruktur lainnya dapat mengalami perubahan TIR sesuai dengan evolusi aset dasar.
Aplikasi dalam pemilihan investasi
Ketika kita menganalisis beberapa peluang fixed income, rumus TIR memberi kita kriteria objektif untuk perbandingan. Ini memungkinkan kita mengidentifikasi aset mana yang akan memberikan pengembalian tertinggi setelah mempertimbangkan semua faktor relevan.
Misalnya, kita membandingkan obligasi korporasi dari perusahaan A dengan obligasi pemerintah dari negara B. Meskipun yang pertama menawarkan kupon 9% dan yang kedua hanya 4%, jika rumus TIR menunjukkan bahwa B menghasilkan 6,5% sementara A hanya mencapai 4,8%, keputusan sebaiknya mengarah ke yang kedua dengan mempertimbangkan profil risiko juga.
Peringatan terakhir: Pengembalian vs keamanan kredit
Meskipun rumus TIR adalah alat yang kuat, tidak pernah boleh menjadi satu-satunya kriteria pengambilan keputusan. Sejarah memberi kita contoh yang nyata: selama krisis Yunani 2015, obligasi Yunani 10 tahun menawarkan TIR di atas 19%, angka yang secara ekstrem tinggi yang mencerminkan risiko default yang akan datang.
Hanya intervensi Zona Euro yang mencegah Yunani gagal memenuhi kewajibannya. Investor yang mengejar TIR luar biasa tersebut tanpa menganalisis solvabilitas penerbit mengalami kerugian besar.
Oleh karena itu, gunakan rumus TIR sebagai kompas untuk mengidentifikasi peluang, tetapi selalu navigasikan dengan mempertimbangkan kualitas kredit penerbit dan kondisi makroekonomi yang memengaruhi investasi.